Teuku Farhan, Programer Game Meurunoe Beut

TENANG dan santai, itulah yang dirasakan The Atjeh Post ketika berbincang-bincang dengan Teuku Farhan. Lelaki kelahiran Banda Aceh, 12 Maret 1982 silam ini adalah seorang pegiat Teknologi Informasi yang bernaung di bawah organisasi Masyarakat Informasi Teknologi (MIT).

Teuku Farhan merupakan salah seorang programmer yang membuat game online Meurunoe Beut (MB). Dengan game tersebut seseorang bisa meurunoe beut atau belajar mengaji namun tetap berbasis pada teknologi informasi.

Sebelum menjadi programmer Farhan, begitu ia biasa disapa adalah mantan mahasiswa Teknik Industri di Universitas Islam Bandung (Unisba). Namun, ia hanya bertahan setahun di sana karena tidak cocok.

“Bayangkan, saya sudah gambar mesin yang sangat detail, hanya gara-gara salah satu mili saja langsung dirobek oleh dosen,” kata Farhan kepada The Atjeh Post sambil tertawa, Kamis, 14 Juni 2012.

Keluar dari Unisba, Farhan memutuskan untuk kuliah di Politekhnik LPKIA. Setelah menyelesaikan program Diplomanya, ia kembali melanjutkan program Sarjana di kampus yang sama. Siapa duga jika di kampus tersebut Farhan seolah menemukan jati dirinya.

“Selalu menjadi pertanyaan besar bagi pribadi saya, mencari identitas diri. Siapa kita, di mana kita, untuk apa kita dan apa sebenarnya keinginan kita dan menjalankan hal-hal yang kita sukai,” ujarnya lagi.

Ayah dua orang anak ini juga mengatakan saat masih di Bandung sempat ditawari menjadi staff ahli di DPR, namun ia memutuskan untuk menolaknya karena ingin pulang ke Aceh. Menurut Farhan, Aceh lebih membutukan tenaga dan pikirannya. Diakuinya, itu adalah pilihan yang sulit dan membutuhkan pengorbanan.

Setelah di Aceh Farhan pernah menjadi dosen di STIKES Ubudiyah dan di STIMIK Ubudiyah Banda Aceh. Di STMIK Ubudiyah ia pernah menjadi Kepala Program Studi Sistem Informasi, namun ia memutuskan keluar dan membentuk Masyarakat Informasi Teknologi (MIT).

Komunitas tersebut terbentuk berawal dari keprihatinan Farhan melihat banyaknya mahasiswa yang gaptek alias gagap teknologi. “Lembaga ini bertujuan untuk mensosialisasikan penggunaan TI kepada masyarakat serta menemukan potensi unggu Aceh yang tidak terpublish,” kata Farhan yang pernah menjadi relawan saat gempat di Jogja ini.

Saat ini Teuku Farhan sering mengisi kajian-kajian IT di berbagai media dan komunitas, ia juga sering menjadi pembicara di berbagai diskusi dan seminar IT. Teuku Farhan juga membuka usaha Web Design Aceh.

Saat ini MIT sedang merencanakan beberapa agenda besar seperti MIT goes to school dan MIT goes to campus serta MIT award 2012, yang merupakan ajang penghargaan kepada para praktisi IT di Aceh.

Dengan mudahnya mendapatkan gadget dan laptop seperti sekarang ini, kata Farhan, memungkinkan potensi teknologi informasi akan semakin berkembang di Aceh. Namun untuk itu perlu ada yang mengarahkan, agar penggunaan media tersebut digunakan untuk hal-hal produktif.

“sebenarnya potensi anak muda untuk IT cukup besar besar, tapi tidak terarah karena kurangnya lomba-lomba yang terkait di bidang IT agar anak-anak muda bersemangat, saya punya ambisi agar anak-anak Aceh ke depan bisa tampil di dunia Internasional dengan membawa nama Aceh,” ujarnya.

Sumber: Nanggroedigital.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *