Game Online dan Narkoba Mengancam Remaja Kita

Oleh : Johansyah*

Cukup terenyuh dan sedih rasanya, ketika kita membaca beberapa berita kriminal di media cetak maupun online, salah satunya di Lintasgayo.co. Tanoh Gayo belum lama ini digegerkan dengan kasus pembuangan bayi hasil ‘hudni’ (hubungan di luar nikah) beberapa pekan lalu. Menyusul curanmor (pencurian sepeda motor) di wilayah Bener Meriah, dan berita terakhir penemuan mayat perempuan di kebun kopi wilayah kecamatan Kute Panang.

Tragisnya, para pelakunya di bawah umur, meski pun untuk kasus terakhir pelakunya, masih berstatus diduga.

Wajarlah banyak yang bertanya, ada apa sebenarnya dengan remaja dan generasi muda kita. Kenapa pelaku sederetan tindak kriminal adalah mereka yang tergolong masih anak-anak dan remaja, yang sejatinya fokus untuk menempa diri, menimba ilmu, dan mengembangkan bakat, bukan malah terjerumus ke dalam tindakan buruk yang membuat masa depan mereka suram.

Tentu ada yang melatarbelakanginya. Penerupungan pertama kita mungkin akan mengarah pada sistem dan pola pendidikan, baik formal maupun informal. Artinya ada masalah besar yang segera harus dibenahi.

Di antara permasalah besar yang dianggap menjadi pemicu tindak kriminal di kalangan remaja tersebut adalah ‘golan’ (game online dan narkoba). Keduanya menimbulkan efek negatif yang sama, yakni kecanduan. Akibatnya, dia akan melakukan apapun untuk memenuhi hasrat tersebut karena sudah ketergantungan.

Faktanya, dari hari ke hari jumlah anak dan remaja bermain game online terus mengalami peningkatan. Wartaekonomi.co.id (22/01/20) melaporkan bahwa peneliti AS mengungkap sebanyak 86 remaja kecanduan game online dan kebanyakan didominasi anak-anak. Ini data di tahun 2020, saya prediksi ini terus mengalami peningkatan di tahun 2021 dan 2022.

Demikian halnya dengan narkoba. Berdasarkan cacatan Suara.com (08/06/21), bahwa penyalahgunaan narkoba mulai banyak di kalangan remaja dan pelajar. Bahkan, berdasarkan data BNN tahun 2018 lalu, penyalahgunaan narkoba di kalangan ini meningkat 3,2 persen, atau setara 2,29 juta orang.

Ini merupakan ancaman serius untuk generasi kita. Game online dan narkoba menjadi silent killer yang merampas dan menghancurkan masa depan anak-anak kita. Mereka akan tumbuh menjadi anak tidak normal baik secara personal, intelektual, emosional, sosial, maupun spiritual.

Kecanduan game online dan narkoba sama-sama merusak jaringan otak. Dilansir dari Psychology Today, penelitian menunjukkan bahwa jalur yang ada di otak depan, tepatnya neurotransmitter yang menghasilkan dopamin, menjadi aktif ketika seseorang bermain video game.

Nah, reaksi ini sama seperti orang yang menggunakan obat-obatan seperti heroin. Pada pecandu game online, mereka mengalami peningkatan dopamin dua kali lipat. Sedangkan pada pengguna heroin, kokain, atau amfetamin, peningkatan dopamin terjadi sekitar 10 kali lipat. (sumber: halodoc.com).

Sudah dipastikan bahwa baik game online, apalagi narkoba dapat menimbulkan dampak buruk. Untuk geme online sendiri, dampak buruknya berpengaruh pada menurunnya kesehatan, kesulitan konsentrasi, mengalami gangguan penglihatan, berkurangnya sosialisasi, dan mengalami kesulitan berekspresi.

Beragam berita kita saksikan. Ada yang membenturkan kepalanya ke dinding gara-gara kehabisan pulsa, padahal sedang asyik bermain game. Ada juga seorang siswa yang tidak mengenali dirinya karena kecanduan bermain game online. Bahkan ada siswa yang meninggal dunia, diduga karena kecanduan bermain game online (baca Kompas.com).

Lain lagi dengan dampak buruk narkoba, di antara dampaknya yang paling buruk adalah hilangnya akal sehat yang menyebabkan seseorang lepas kontrol dalam berkata, bersikap, dan bertindak. Orang yang kehilangan akal adalah orang gila.

Orang gila dapat melakukan apa saja tanpa pertimbangan dan rasa takut sedikit pun, meski setelah sadar dia menyesal. Maka tidak mengherankan kalau kemudian WHO menetapkan orang yang kecanduan game, terlebih narkoba tergolong pada orang yang mengalami gangguan mental.

Boleh jadi, anak di bawah umur nekat melakukan pencurian sepeda motor maupun pembunuhan, itu karena kecanduan narkoba. Walau pun barang haram ini harganya sangat mahal, tapi mereka berusaha mendapatkannya dengan cara apa pun karena sudah kecanduan.

Minta pada orang tua ratusan atau jutaan rupiah tidak mungkin karena mereka akan ditanya oleh orangtua, uang sebanyak itu digunakan untuk apa? Sedangkan untuk kebutuhan pendidikan sudah dipenuhi semuanya. Untuk itu, mereka nekat mencuri, merampok hingga membunuh agar dapat membeli dan menikmati barang haram tadi, atau membeli pulsa jika itu untuk game online.

Inilah serigala zaman yang siap merampas dan mengoyak masa depan anak-anak dan remaja kita. Ancaman ini kian serius karena keseharian kita adalah android dan gadget yang mau tidak mau, menjadi kebutuhan utama kita di jaman ini.

Namun di sisi lain harus menghadapi kemungkinan buruk dan resiko besar bagi anak-anak dan remaja kita.

Lalu bagaimana mengatasinya? Semua kembali pada orangtua, merekalah yang memfasilitasi, memberi ruang dan peluang pada anak untuk itu semua. Maka ini sama sekali bukan soal kebijakan atau ketegasan pemerintah, melainkan tugas utama orangtua untuk dapat mengendalikannya.

Seorang ustadz pernah ditanya soal ini, lalu ustadz tersebut menjawab dengan tegas; ‘tarik hp itu dari tangan mereka, kenapa kita harus takut pada anak, kenapa kita harus merasa kasihan ketika dia menangis. Lebih baik menangisnya sekarang, dari pada nanti mereka dalam tangisan yang panjang’. Demikian kata ustradz tesebut.

Soal narkoba bagi remaja, kiranya orangtua senantiasa mengawasi gerak-gerik anak-anaknya. Jalin komunikasi dengan sekolah dan orang-orang sekitar. Cari tau siapa teman dan apa saja aktivitasnya, meskipun tidak harus membuntuti setiap kegitannya. Tapi kita tetap harus tau di mana dan apa aktivitasnya.

Sebagai penutup ulasan, ini semua soal pendidikan agama, bahwa tidak ada yang lebih bernilai kita berikan dan tanamkan kepada anak-anak kita selain akidah dan ibadah yang benar, serta akhlakul karimah melalui keteladanan dan budaya-budaya Islami. Dengan itu, insyaAllah meskipun godaan sangat kuat mereka bisa menahan dan membentengi diri dari godaan tersebut. Wallahu a’lam bishawab!

*Warga Aceh Tengah

Sumber : Lintasgayo.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.